Supply Chain Management (SCM) digital

Teguh Priamedalisan 1111500008 
Teknik Elektro 
INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA 
Tangerang Selatan 

Tulisan ini saya dapat dari beberapa sumber yang terpercaya, selain untuk memenuhi tugas kuliah mudah mudahan dapat bermanfaat buat bersama. Tulisan ini berisi :

1. Pendahuluan 
2. Proses-Proses dalam Supply Chain Management
3. SCM 4.0 Penting Segera Diaplikasikan



1. Pendahuluan 

Supply chain management (SCM) merupakan fondasi yang mendukung pemenuhan kebutuhan konsumen yang dilakukan oleh bisnis manufaktur, ritel, dan grosir. Dengan kata lain, SCM juga merupakan faktor penentu kesuksesan dari bisnis-bisnis tersebut.

Rantai pasokan dalam setiap bisnis bisa saja berbeda. Versi paling dasarnya yakni mencakup perusahaan, pemasoknya, dan pelanggan perusahaan tersebut. Namun, untuk perusahaan yang lebih besar, maka cakupannya juga jadi semakin luas.

Supply Chain Management adalah rangkaian kegiatan yang diperlukan untuk merencanakan, mengendalikan, dan menjalankan arus produk. Ini meliputi proses perolehan bahan baku, proses produksi, hingga distribusi produk ke konsumen akhir, dengan cara yang paling efisien dan hemat biaya.

SCM merupakan usaha yang luas dan kompleks yang bergantung pada setiap mitra – dari pemasok hingga produsen dan seterusnya – supaya dapat berjalan dengan baik. Tujuan dari manajemen rantai pasokan sendiri adalah untuk memaksimalkan nilai pelanggan dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar. Untuk mencapainya, dibutuhkan berbagai upaya, baik strategi bisnis dan perangkat lunak khusus.

2. Proses-Proses dalam Supply Chain Management


Pengertian Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasokan)Supply Chain Management melibatkan begitu banyak proses, mulai dari persiapan produksi hingga pemenuhan kebutuhan konsumen. Berikut ini adalah penjelasan mengenai peran dan fungsi dari setiap proses di dalamnya.

Perencanaan

Ada beberapa aktivitas yang dilibatkan dalam tahap perencanaan, mulai dari prakiraan permintaan konsumen, perencanaan pembelian, dan perencanaan produksi, hingga persiapan tenaga kerja dan transportasi.

Prakiraan permintaan konsumen (demand forecasting) dilakukan agar penjual dapat mengetahui jenis dan jumlah produk yang harus dipersiapkan selama kurun waktu tertentu. Ini penting dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang akan diproduksi dan dijual telah sesuai dengan permintaan konsumen.

Dalam melakukan prakiraan, penjual harus melihat laporan penjualan dan inventaris, serta memerhatikan tren pasar. Untuk melakukan prediksi permintaan secara otomatis, penjual sebaiknya mempertimbangkan untuk menggunakan sistem manajemen inventaris. Sistem ini menyediakan laporan inventaris yang akurat dan alat forecasting yang memungkinkan penggunanya untuk mendapatkan hasil prediksi dalam hitungan detik.

Pembelian atau Pengadaan

Setelah mengetahui jenis dan jumlah barang yang harus dibeli melalui demand forecasting, kini saatnya untuk memperoleh barang tersebut. Procurement atau pengadaan adalah perolehan barang dengan harga terbaik, dalam jumlah yang tepat, dan pada waktu yang tepat.

Proses pengadaan biasanya melibatkan beberapa tahap, yakni pengajuan pembelian, penilaian pengajuan, persetujuan pembelian, dan pemesanan ke pemasok. Admin bertanggung jawab untuk memeriksa dan mencatat apa saja yang harus dibeli dan kemudian mengajukannya kepada manajer pembelian.

Pengadaan akan menjadi lebih mudah dan sederhana dengan bantuan sistem manajemen pembelian. Dengan perangkat lunak ini, departemen pembelian dapat membuat permintaan penawaran, purchase order, persetujuan pembelian, dan kontrak payung secara instan. Procurement software yang baik bahkan menyediakan supplier portal  untuk mempercepat proses pemesanan ke pemasok.

Produksi

Proses produksi merupakan proses di mana seluruh bahan baku akan diolah menjadi produk jadi. Proses ini biasanya tidak hanya melibatkan tenaga kerja manusia tetapi juga mesin.

Pemberhentian dalam proses produksi dapat menyebabkan penundaan pengiriman pesanan dan tentunya menyebabkan ketidakpuasan pelanggan. Oleh karena itu, downtime harus dihilangkan dengan memastikan produktivitas tenaga kerja, mesin, dan peralatan.

Pengelolaan Gudang

Setelah barang selesai diproduksi, maka barang tersebut harus di simpan di dalam gudang. Pengelolaan gudang terdiri dari proses memasukkan (inbound) dan mengeluarkan (outbound) barang, pengambilan dan pengepakan, cross-docking, dan stock opname.

Setiap barang yang masuk dan keluar harus selalu dicatat. Stock opname juga harus dilakukan secara berkala agar tidak ada perbedaan antara jumlah fisik barang yang sebenarnya dan jumlah barang yang tercatat dalam pembukuan. Seluruh aktivitas di gudang yang memakan waktu ini dapat diotomatiskan dengan bantuan warehouse management 

Pengiriman Pesanan

Setelah barang pesanan diambil dari gudang dan dikemas, maka langkah selanjutnya adalah mengirimnya ke pelanggan. Kurir dan transportasi harus dipersiapkan terlebih dahulu agar barang dapat segera dikirim.

Untuk memastikan agar pesanan sampai ke tangan pelanggan secara tepat waktu, penjual sebaiknya memiliki alat untuk melacak kurirnya. Dengan EQUIP Inventory, Anda dapat melacak keberadaan kurir melalui smartphone. Sistem ini juga memungkinkan kurir untuk mengonfirmasi ketika pesanan sudah diantar ke pelanggan.

Sumber : https://www.hashmicro.com/id/blog/pengertian-supply-chain-management/

3. SCM 4.0, Penting Segera Diaplikasikan

Sumber:https://www.oracle.com/applications/supply-chain-management/what-is-supply-chain-management-system.html

Revolusi industri 4.0 makin memengaruhi sistem dan pengelolaan rantai pasokan Indonesia. Pelakunya harus mampu beradaptasi bila ingin terhindari dari gerusan zaman.

Pelaku Supply Chain Management (SCM) tanah air pada dasarnya telah menyadari dampak perkembangan teknologi dan digital terhadap manajemen rantai pasokan.

Penyimpanan data dan informasi di komputasi awan (cloud computing) merupakan salah satu bentuk teknologi yang kini semakin banyak dimanfaatkan pelaku SCM. Teknologi lainnya adalah pengaplikasian digital supply chain untuk menghubungkan produsen dan konsumen.

Meskipun demikian, itu belum seberapa karena SCM 4.0 diyakini akan diwarnai oleh kehadiran superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, hingga perkembangan neurotekonologi, dan hal lain yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Kesemua inilah yang sekarang belum teradopsi. Pelaku SCM pun belum banyak benar-benar bersiap untuk mengambil langkah perubahan. Tidak sedikit bahkan yang merasa transformasi ke SCM 4.0 belum perlu dilakukan.

Selaras Kebutuhan Pasar

Banyak pihak meyakini SCM 4.0 dapat membuat digitasi rantai pasokan perusahaan sesuai dengan kebutuhan pasar di masa mendatang. Ketika tuntutan konsumen semakin tinggi, pelaku SCM memerlukan sistem yang dapat mendukung produksinya lebih cepat, fleksibel, akurat, dan efisien.

Tidak melulu tentang teknologi, yang dinilai menjadi kunci SCM 4.0, anggota Pokja Bidang Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Hoetomo Lembito, SCM 4.0 nantinya tidak terfokus pada perangkat teknologi saja. Pelaku usaha juga harus sadar kegiatan produksi, transportasi, penyimpanan barang akan tetap berlangsung secara fisik.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan PPM Manajemen, lebih jauh Lembito mengungkapkan, setidaknya terdapat lima langkah yang dapat dilakukan untuk merespon dan mengakselerasi kemajuan digitalisasi SCM. Pertama, peningkatan digital skill SDM. Kedua, kemauan untuk learning by doing dengan mencoba dan menerapkan teknologi.

Langkah ketiga adalah menggali kolaborasi baru dalam pendidikan peningkatan digital skill. Keempat, menyusun kurikulum pendidikan tentang materi human’s digital skill. Dan kelima, kolaborasi industri, akademisi, dan masyarakat untuk identifikasi ketersediaan skill.

Sumber : https://petroupdate.com/news/2018/08/08/scm-4-0-penting-segera-diaplikasikan/

Referensi : https://drive.google.com/file/d/1gBaHiQkgyGiJbhU0maBtZ4srApF0Bv8s/view?usp=drive.google.com silahkan di lihat



Komentar